Mar
5
bercinta dengan anthurium
Maret 5, 2008 |
Sejak kurang lebih 15 tahun yang lalu, aku mulai “selingkuh” dari istriku. Aku bercinta dengan Anthurium, sejenis tanaman hias dari keluarga Araceae. Sebelum beristripun, sebenarnya aku sudah “menggauli” berbagai tanaman hias yang aku anggap unik. Bonsai misalnya.
Anthurium adalah tanaman hutan di penggunungan tropis. Kabarnya hutan-hutan Panaman, Columbia dan Ecuador lah penghasil Anthurium berkualitas bagus, yang kemudian banyak dibiakkan di Indonesia.
Kenapa saya sampai suka rela bercinta dengan Anthurium? Jawabnya ‘ndak jelas. Wong saya seneng. Seneng karena bentuk daunnya yang khas. Tekstur daunnya seperti batik tulis. Dan pertumbuhannya relatif lama. Satu daun tumbuh dalam 2-4 bulan. Dan yang pasti setiap pohon berbeda dengan pohon yang lain, meski spesiesnya sama.
Kalaupun kini harga Anthurium jadi setinggi langit, itu tak pernah terfikir olehku. Ketika awal memelihara Anthurium, harga di lapak penjual tanaman juga ‘nggak seberapa, sama dengan tanaman hias lainnya.
Ada beberapa koleksi Anthurium yang kukoleksi. Yang paling banyak adalah dari spesies Jenmanii. Di masa lalu varian Jenmanii tak sebanyak sekarang. Paling orang hanya mengenal Jenmanii Sawi dan Kol, karenya bentuk daunnya mirip Sawi dan Kol. Tapi sekarang minta ampun. Apa pun bisa digandeng di belakan Jenmanii. Seperti Jenmanii Cobra, Piton, Naga, Anaconda, Jaipong, Tanduk dan mash banyak lagi yang lain. Nama-nama tersebut selalu berkonotasi dengan bentuk daun, yang buntutnya tentu saja nilai jual.
Foto ini salah satu Jenmanii koleksiku. Beberapa orang menyebut Jenmanii Mawar, tapi ada yang menyebut Pagoda. Aku ‘nggak peduli dengan sebutan-sebutan itu. Yang pasti pada usianya yang sekitar 5 tahun Anthurium ini sangat elok untuk dilihat.
Comments
3 Comments so far
Wah…dadi jurang sugih sampeyan mas!
lha kok gelombang cinta anjlok hargane gimane tu?
nderek ngoceh,
Walaaaaah…
Sehat tenan tuh Anthurium, klo skarang usianya 5 thn
berarti dikit lagi ABG yaa hehe
Mau dooong!
to sangnanang.
1. Klarifikasi dulu, bukan juragan, bukan pula kolektor, tapi kolekdol. Maksudnya, mengoleksi, tapi kalu ada yang minat ya didol.
2. Namanya juga gelombang cinta, bisa pasang bisa surut. Dan biasanya kalo sudah surut yang susah pasang lagi. Apa lagi kalo sudah nemu yang lain…he…he…Pendapatku, Gelcin, memang pantas kalo harga pasarnya seperti saat ini. Dulu sebutannya ya hanya Wave thok, gak pake cinta. Ketika pedagang nambahi cinta, orang jadi kepencut namanya, harga menggila. Padahal stok Wave itu banyak karena mudah dibudidayakan. Maka jadi hukum bisnis, stok berlimpah harga turun.